Posted by: iyasdo | April 16, 2008

CANGKIR YANG CANTIK

CANGKIR YANG CANTIK

 

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat  cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. “Lihat cangkir itu,” kata si nenek kepada suaminya. “Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat,” ujar si kakek.

Saat mereka  mendekati cangkir itu, tiba tiba cangkir yang dimaksud berbicara “Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa

Aku dulunya tidak  cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok  tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada  seorang pengrajin  dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda  berputar.

 

Kemudian ia  mulai memutar mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop  !

Aku  berteriak, Tetapi orang itu berkata “belum !” lalu ia mulai  menyodok dan meninjuku  berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang  ini masih saja  meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih  buruk lagi ia  memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku

Dengan keras. Stop !

Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata “belum !”

 

Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku  sampai dingin. Aku  pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku  iberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai  mewarnai aku. Asapnya  begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak.

Wanita itu berkata “belum !” Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya!

Tolong!  Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku  berteriak sekuatkuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku.Ia terus membakarku. Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin.

 

Setelah benarbenar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan  aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali.

Aku hampir tidak  percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

 

Renungan :

 

Seperti inilah Tuhan membentuk kita. Pada saat Tuhan membentuk kita,tidaklah  menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air  mata.Tetapi inilah  satusatunya cara bagiNya untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaanNya.

 

“Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”

 

Apabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Dia sedang  membentuk Anda. Bentukanbentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua  proses itu selesai, Anda akan melihat betapa cantiknya Tuhanmembentuk  Anda.

Posted by: iyasdo | April 16, 2008

Impian Seorang Mahasiswi Lansia 87 Tahun

Impian Seorang Mahasiswi Lansia 87 Tahun

 

Hari pertama kuliah di kampus, profesor memperkenalkan diri dan menantang kami untuk berkenalan dengan seseorang yang belum kami kenal. Saya berdiri dan melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya. Saya menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput, memandang dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah. Ia menyapa,  “Halo anak cakep. Namaku Rose. Aku berusia delapan puluh tujuh. Maukah kamu memelukku? ” Saya tertawa dan dengan antusias menyambutnya,

“Tentu saja boleh!”. Dia pun memberi saya ! pelukan yang sangat erat.

“Mengapa kamu ada di kampus pada usia yang masih begitu muda dan tak berdosa seperti ini?” tanya saya berolok-olok. Dengan bercanda dia menjawab,  “Saya di sini untuk menemukan suami yang kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian.”

“Ah yang serius?” pinta saya. Saya sangat ingin tahu apa yang telah memotivasinya untuk mengambil tantangan ini di usianya.

“Saya selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya sedang mengambilnya! ” katanya. Setelah jam kuliah usai, kami berjalan menuju kantor senat mahasiswa dan berbagi segelas chocolate milkshake. Kami segera akrab.

Dalam tiga bulan kemudian, setiap hari kami pulang bersama-sama dan bercakap-cakap tiada henti. Saya selalu terpesona mendengarkannya berbagi pengalaman dan kebijaksanaannya. Setelah setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan dengan mudah dia berkawan dengan siapapun. Dia suka berdandan dan segera mendapatkan perhatian dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali menghidupkannya suasana.

Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk berbicara di acara makan malam klub sepak bola kami. Saya tidak akan pernah lupa apa yang diajarkannya pada kami. Dia diperkenalkan dan naik ke podium. Begitu dia mulai menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari lima kartu pidatonya terjatuh ke lantai. Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon. Dengan ringan berkata,
“Maafkan saya sangat gugup. Saya sudah tidak minum bir. Tetapi wiski ini membunuh saya. Saya tidak bisa menyusun pidato saya kembali, maka ijinkan saya menyampaikan apa yang saya tahu.”

“Kita tidak pernah berhenti bermain karena kita tua. Kita menjadi tua karena berhenti bermain. Hanya ada rahasia untuk tetap awet muda, tetap menemukan humor setiap hari. Kamu harus mempunyai mimpi. Bila kamu kehilangan mimpi-mimpimu, kamu mati. Ada  anyak sekali orang yang berjalan di sekitar kita yang mati namun mereka tak menyadarinya. “

“Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Bila kamu berumur sembilan belas tahun dan berbaring di tempat tidur selama satu tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah menjadi dua puluh tahun. Bila saya berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal di tempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi delapan puluh delapan tahun. Setiap orang pasti menjadi tua. Itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau bakat. Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan.”

“Jangan pernah menyesal. Orang-orang tua seperti kami biasanya bukan menyesali apa yang telah diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak kami perbuat. Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan.”

Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi “The Rose”. Dia menantang setiap orang untuk mempelajari liriknya dan  enghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah diupayakannya sejak beberapa tahun lalu. Seminggu setelah wisuda, Rose meninggal dunia dengan damai. Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri upacara  emakamannya sebagai penghormatan pada wanita luar biasa yang mengajari kami dengan memberikan teladan bahwa tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kau lakukan. Ingatlah, menjadi tua adalah kemestian, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.

Sediakan waktu untuk berpikir, agar selalu mendapat yang terbaik.
Sediakan waktu untuk bermain, itulah rahasia awet muda.
Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan hikmat & kebijaksanaan.
Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju keharmonisan.
Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang.
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa Tuhan.
Sediakan waktu untuk melihat sekeliling anda, hari anda terlalu singkat untuk mementingkan diri sendiri.
Sediakan waktu untuk bekerja, itulah sumber kebahagiaan.
Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa.
Sediakan waktu untuk Tuhan, sehingga setelah meninggal menemukan tempat terbaik.

(Source : Unknown….)

Posted by: iyasdo | April 15, 2008

Tak Bersalah…

Tak Bersalah

 

Aku baru masuk kuliah saat bertemu dengan Keluarga White. Mereka sangat berbeda dengan keluargaku, namun aku langsung merasa betah bersama mereka. Aku dan Jane  White berteman di sekolah, dan keluarganya menyambutku- orang luar-seperti  sepupu jauh.

 

Dalam keluargaku, jika ada masalah, menyalahkan orang itu selalu penting.  “Siapa yang melakukan ini?” ibuku membentak melihat dapur berantakan. “lni  semua salahmu, Katharine,” ayahku berkeras jika kucing berhasil keluar rumah  atau mesin cuci piring rusak. Sejak kami kecil, aku dan saudara-saudaraku  saling mengadu. Kami menyiapkan kursi untuk si Terdakwa di meja makan. Tapi  Keluarga White tidak mencemaskan siapa berbuat apa.

 

Mereka merapikan yang berantakan dan melanjutkan hidup mereka. lndahnya hal ini kusadari penuh pada musim panas ketika Jane meninggal. Keluarga White memiliki enam anak: tiga lelaki, tiga perempuan. Satu putranya  meninggal saat masih kecil, mungkin karena itulah kelima yang tersisa menjadi  dekat. Di bulan Juli, aku dan tiga putri White memutuskan berjalan-jalan naik  mobil dari rumah mereka di Florida ke New York. Dua yang tertua, Sarah dan  Jane, adalah mahasiswa, dan yang terkecil, Amy, baru menginjak enam belas  tahun. Sebagai pemilik SIM baru yang bangga, Amy gembira ingin melatih  keterampilan mengemudinya selama perjalanan itu. Dengan tawanya yang lucu, ia  memamerkan SIM-nya kepada siapa saja yang ditemuinya.

 

Kedua kakaknya ikut mengemudikan mobil pada bagian pertama perjalanan, tapi  saat mereka tiba di daerah yang berpenduduk jarang, mereka membolehkan Amy mengemudi. Di suatu tempat di South Carolina, kami keluar dari jalan tol untuk  makan. Setelah makan, Amy mengemudi lagi. Ia tiba di perempatan dengan tanda  stop untuk mobil dari arah kami. Entah ia gugup atau  tidak memperhatikan atau  tidak melihat tandanya tak akan ada yang tahu. Amy terus menerjang perempatan  tanpa berhenti. Pengemudi trailer semi-traktor besar itu tak mampu mengerem  pada waktunya, dan menabrak kendaraan kami.

 

Jane langsung meninggal. Aku selamat hanya dengan sedikit memar. Hal tersulit  yang kulakukan adalah menelepon Keluarga White dan memberitakan kecelakaan itu  dan bahwa Jane meninggal. Sesakit apa pun perasaanku kehilangan seorang  sahabat, aku tahu bagi mereka jauh lebih pedih kehilangan anak. Saat suami-istri  White tiba di rumah sakit, mereka mendapatkan dua putri mereka di sebuah kamar.

 

Kepala dibalut perban; kaki Amy digips. Mereka memeluk kami semua dan   menitikkan air mata duka dan bahagia saat melihat putri mereka. Mereka  menghapus air mata kedua putrinya dan menggoda Amy hingga tertawa sementara ia  belajar menggunakan kruknya. Kepada kedua putri mereka, dan terutama kepada Amy,  berulang-ulang mereka hanya berkata, “Kami gembira kalian masih hidup.”

 

Aku tercengang. Tak ada tuduhan. Tak ada tudingan. Kemudian, aku menanyakan  Keluarga White mengapa mereka tak pernah membicarakan fakta bahwa Amy yang  mengemudi dan melanggar rambu-rambu lalu lintas. Bu White berkata, “Jane sudah  tiada, dan kami sangat merindukannya. Tak ada yang dapat kami katakan atau  perbuat yang dapat menghidupkannya kembali. Tapi hidup Amy masih panjang.  Bagaimana ia bisa menjalani hidup yang nyaman dan bahagia jika ia merasa kami  menyalahkannya atas kematian kakaknya?”

 

Mereka benar. Amy lulus kuliah dan menikah beberapa tahun yang lalu. Ia bekerja  sebagai guru sekolah anak luar biasa. Putrinya sendiri sudah dua, yang tertua  bernama Jane. Aku belajar dari Keluarga White bahwa menyalahkan sebenarnya  tidak penting. Bahkan, kadang-kadang, tak ada gunanya sama sekali. ( Sumber Unknown..)

Posted by: iyasdo | April 15, 2008

Inspirasi..

Sebuah inspirasi ……

 

PESAN SANG AYAH …..

 

Dahulu kala ada 2 orang kakak beradik. Sebelum meninggal, ayah mereka berpesan dua hal :  

1.     Jangan menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu

2.     Jika mereka pergi dari rumah ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar  matahari.

Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin.

Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka.

Jawab anak yang bungsu : 

 Inilah karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, dan sebagai akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih. Juga ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong. Sebetulnya dengan jalan kaki saja cukup, tetapi karena pesan ayah demikian maka akibatnya pengeluaranku bertambah banyak.

 

Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, sang ibupun bertanya hal yang sama.

 

Jawab anak sulung  :

 Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut. Juga ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Akibatnya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup. Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama.

 

Bagaimana dengan anda ?

 

Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan presepsi yang berbeda jika kita melihat dengan positif attitude maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita .. pilihan ada di tangan kita.

 

 

  • Berusaha melakukan hal biasa yang dikerjakan dengan cara yang luar biasa.
  • Mengubah diri Anda sendiri, biasanya merupakan cara terbaik untuk merubah orang.

 

****************************************************************************

Posted by: iyasdo | April 15, 2008

Kata Bijak…

Aku Siap Menerima resiko terencana
Berangan-angan dan membina
Gagal atau Sukses……
(Lamasi Nababan..)

Categories