Posted by: iyasdo | April 15, 2008

Tak Bersalah…

Tak Bersalah

 

Aku baru masuk kuliah saat bertemu dengan Keluarga White. Mereka sangat berbeda dengan keluargaku, namun aku langsung merasa betah bersama mereka. Aku dan Jane  White berteman di sekolah, dan keluarganya menyambutku- orang luar-seperti  sepupu jauh.

 

Dalam keluargaku, jika ada masalah, menyalahkan orang itu selalu penting.  “Siapa yang melakukan ini?” ibuku membentak melihat dapur berantakan. “lni  semua salahmu, Katharine,” ayahku berkeras jika kucing berhasil keluar rumah  atau mesin cuci piring rusak. Sejak kami kecil, aku dan saudara-saudaraku  saling mengadu. Kami menyiapkan kursi untuk si Terdakwa di meja makan. Tapi  Keluarga White tidak mencemaskan siapa berbuat apa.

 

Mereka merapikan yang berantakan dan melanjutkan hidup mereka. lndahnya hal ini kusadari penuh pada musim panas ketika Jane meninggal. Keluarga White memiliki enam anak: tiga lelaki, tiga perempuan. Satu putranya  meninggal saat masih kecil, mungkin karena itulah kelima yang tersisa menjadi  dekat. Di bulan Juli, aku dan tiga putri White memutuskan berjalan-jalan naik  mobil dari rumah mereka di Florida ke New York. Dua yang tertua, Sarah dan  Jane, adalah mahasiswa, dan yang terkecil, Amy, baru menginjak enam belas  tahun. Sebagai pemilik SIM baru yang bangga, Amy gembira ingin melatih  keterampilan mengemudinya selama perjalanan itu. Dengan tawanya yang lucu, ia  memamerkan SIM-nya kepada siapa saja yang ditemuinya.

 

Kedua kakaknya ikut mengemudikan mobil pada bagian pertama perjalanan, tapi  saat mereka tiba di daerah yang berpenduduk jarang, mereka membolehkan Amy mengemudi. Di suatu tempat di South Carolina, kami keluar dari jalan tol untuk  makan. Setelah makan, Amy mengemudi lagi. Ia tiba di perempatan dengan tanda  stop untuk mobil dari arah kami. Entah ia gugup atau  tidak memperhatikan atau  tidak melihat tandanya tak akan ada yang tahu. Amy terus menerjang perempatan  tanpa berhenti. Pengemudi trailer semi-traktor besar itu tak mampu mengerem  pada waktunya, dan menabrak kendaraan kami.

 

Jane langsung meninggal. Aku selamat hanya dengan sedikit memar. Hal tersulit  yang kulakukan adalah menelepon Keluarga White dan memberitakan kecelakaan itu  dan bahwa Jane meninggal. Sesakit apa pun perasaanku kehilangan seorang  sahabat, aku tahu bagi mereka jauh lebih pedih kehilangan anak. Saat suami-istri  White tiba di rumah sakit, mereka mendapatkan dua putri mereka di sebuah kamar.

 

Kepala dibalut perban; kaki Amy digips. Mereka memeluk kami semua dan   menitikkan air mata duka dan bahagia saat melihat putri mereka. Mereka  menghapus air mata kedua putrinya dan menggoda Amy hingga tertawa sementara ia  belajar menggunakan kruknya. Kepada kedua putri mereka, dan terutama kepada Amy,  berulang-ulang mereka hanya berkata, “Kami gembira kalian masih hidup.”

 

Aku tercengang. Tak ada tuduhan. Tak ada tudingan. Kemudian, aku menanyakan  Keluarga White mengapa mereka tak pernah membicarakan fakta bahwa Amy yang  mengemudi dan melanggar rambu-rambu lalu lintas. Bu White berkata, “Jane sudah  tiada, dan kami sangat merindukannya. Tak ada yang dapat kami katakan atau  perbuat yang dapat menghidupkannya kembali. Tapi hidup Amy masih panjang.  Bagaimana ia bisa menjalani hidup yang nyaman dan bahagia jika ia merasa kami  menyalahkannya atas kematian kakaknya?”

 

Mereka benar. Amy lulus kuliah dan menikah beberapa tahun yang lalu. Ia bekerja  sebagai guru sekolah anak luar biasa. Putrinya sendiri sudah dua, yang tertua  bernama Jane. Aku belajar dari Keluarga White bahwa menyalahkan sebenarnya  tidak penting. Bahkan, kadang-kadang, tak ada gunanya sama sekali. ( Sumber Unknown..)


Leave a response

Your response:

Categories